Minggu, 12 September 2010

Kalau Kata Hatta Rajasa, "Kalau Mampu Beli Mobil Pantasnya Tak Pakai Premium"

Karena masih dalam suasana ied mubarak, saya memohon maaf lahir dan batin, dan semoga pada awal bulan Syawal ini kita dapat memulai lembaran-lembaran baru sesempurna mungkin, sehingga kita menjadi pribadi yang lebih sholeh/sholehah, berbakti kepada orangtua, keluarga, dan negara. Aamiin..

Kali ini, saya membuat kategori baru dalam blog saya yang berlabel “Kritik Asal Kicau (KAaK!)”. Dalam KAak! ini, sesuai namanya yaitu berisi kritik (bisa juga saran, pendapat, dan unek-unek) dari saya yang sangat awam, masyarakat biasa, serta tidak punya kuasa dan jabatan apa-apa di negeri khatulistiwa ini, sehingga dapat dikatakan ucapan-ucapan saya ini hanya asal bunyi, namun mudah-mudahan tetap memperhatikan bobot pembicaraan (tidak nyampah).


Saya tertarik dengan ucapan Menko Perekonomian kita, Hatta Rajasa. Beliau mengatakan bahwa masyarakat yang mampu membeli mobil tidak pantas untuk memakai bahan bakar gas jenis premium. Ya, seharusnya premium, sebagai bahan bakar subsidi, hanya ditujukan kepada masyarakat menengah ke bawah. Jika kalangan elit masih tetap saja memakai premium, itu namanya sudah mengambil hak orang lain! Sebenarnya Indonesia ini kurang apa lagi? Apa-apa serba ada, sumber daya alam banyak dan mudah didapatkan. Berdasarkan International Fuel Prices 2009, harga bensin di Indonesia sangat murah dibandingkan hampir seluruh negara-negara di dunia. Mestinya bersyukur, tapi kok masih ada saja orang kaya yang mengisi bensin dengan premium..

Sejauh yang saya tahu, pemerintah cuma bisa menghimbau untuk soal ini. Padahal, belum tentu seluruh masyarakat dengar dengan omongan SBY dan antek-anteknya, belum tentu pula masyarakat sadar dan peka atas masalah ini, apalagi mereka yang masih suka mengambil hak orang lain.

Saya bisa memberikan usul—yang tentunya tidak lepas dari prinsip asal bunyi. Usul ini mungkin tidak akan tersampaikan dengan baik atau bahkan terbaca, tapi perhatikanlah sejenak..

Bagaimana kalau pemerintah membuat semacam “Kartu Premium”?

Jadi Kartu Premium di sini seperti kartu seperti SIM dan STNK yang selalu menyertai pengendara kendaraan bermotor. Setiap pengendara yang ingin mengisi bensin jenis premium di SPBU Pertamina harus dapat menunjukkan kartu ini. Syarat untuk mendapatkan kartu ini pun tidak seenak udel. Pemilik kartu haruslah pengendara “pelat kuning” dan pengendara angkutan barang. Sepeda motor? Karena sekarang relatif mudah dibeli, meskipun dicicil, dan jumlahnya melimpah di jalan, sepertinya tidak perlu. Hitung-hitung juga sebagai salah satu usaha untuk memaksimalkan kendaraan umum.

Kartu Premium harus mencantumkan nomor kendaraan dan jenis kendaraan yang terkait seperti STNK, tetapi bentuknya sebaiknya sederhana, mudah dimasukkan dalam dompet seperti SIM, serta mudah dilihat dari jarak jauh. Untuk membuat kartu ini dapat diurus di kantor polisi setempat. Oleh sebab itu, harus ada hubungan kerjasama yang terintegrasi antara pemerintah, Polri, dan PT Pertamina.

Memang, pembuatan dan sosialisasi Kartu Premium ini pasti akan memakan biaya yang tidak sedikit, namun untuk jangka panjang kartu ini berprospek cerah. Proyek Kartu Premium ini seharusnya lebih murah daripada proyek koin Rp1000,00 baru dan uang-uang baru lainnya. Tentunya pengguna kendaraan bermotor tidak sebanyak pengguna uang bukan? Lagian katanya ada wacana mau redenominasi, kok malah bikin uang baru?


---
Referensi:
Sumber gambar: