Tepat pada hari Jumat, 25 November 2011, saya mengalami kejadian yang cukup membuat shock, di mana system Windows 7 pada laptop saya error gara-gara nurutin cleaning registry yang muncul sendiri dari aplikasi Vaio Care (karena laptop saya Vaio). Semua file yang berekstensi ".exe" tidak bisa dibuka dengan keterangan kira-kira begini: "no such interface support"!
Matilah, padahal di laptop itu banyak aplikasi yang sangat penting buat saya, mana lagi ngerjain TA (Tugas Akhir) pula. Sempat terpikir untuk reinstall Windows (karena setiap tukang service yang saya temui cuma bisa reinstall Windows), dan terbesit juga untuk ke Mangga 2 untuk restore registry sama suhu-suhu di sana, tapi saya ingin mencoba usaha terakhir agar tidak keluar uang, yaitu edit registry sendiri... Tentunya sebelumnya file-file penting sudah saya backup di harddisk eksternal.
Sebenarnya edit registry itu adalah uji nyali, tapi nggak ada pilihan lain karena komputer saya pun udah gak bisa buat ngapa-ngapain, bahkan buka "regedit.exe" (program untuk edit registry) aja gak bisa! Lantas bagaimana saya meng-edit registry pada system Windows tersebut?
Urusannya ternyata cukup mudah, sebenarnya bukan edit, tapi restore. Dengan Googling, saya menemukan solusinya. Saya men-download sekumpulan registry default yang dikumpulkan dalam satu file archive. Archive tersebut berisi file-file registry yang berekstensi ".reg". Lalu saya gabungkan file-file tersebut ke dalam system Windows safe-mode saya, lalu saya restart Windows dan ta-da! Seluruh system berjalan normal dan sejauh ini tidak ada masalah apa-apa... Bayangkan jika saya membawanya ke tukang service, ratusan-ribu rupiah bakal harus diikhlaskan..
Jika anda para pembaca pengguna Windows 7 dan kira-kira sedang berkutat dengan masalah seperti yang saya alami, tidak segan-segan saya akan memberikan archive default registry untuk Windows 7.
Jika anda bukan advanced user, saran saya jangan pernah mengubah isi registry meskipun itu untuk cleaning karena berbahaya! Dan sering-seringlah mem-backup baik system file atau dokumen-dokumen anda.
DISCLAIMER: halaman-halaman yang disajikan tidak menjamin ditulis secara harian, objektif, dan menarik; ditulis ada-apanya, bukan apa-adanya; mungkin sembrono; menghadirkan baik kejujuran ataupun "manipulasi kejujuran" (yang penting tidak bohong?)
Tampilkan postingan dengan label Al-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Kisah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Selamat Malam
Sudah sekitar 2 minggu saya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat disebutkan di sini.. Masalah tersebut sangat menurunkan moral saya. Akademis saya makin tidak karuan, tidak pernah kuliah, tugas terbengkalai, makan nggak teratur, dan lain-lain..
Galau.. Ya, kalo bahasa ababil (abege agak labil)-nya, saya ini galau. Apa yang harus saya lakukan??
First! Saya sudah merubah tampilan kamar kos saya. Nice job, setidaknya dapat me-refresh lingkungan saya sehari-hari yang notabene banyak di kos. Semoga dengan ini saya dapat semangat belajar mengingat ujian akhir semester sudah di depan pelupuk mata.
Lalu usaha berikutnya, I've been searching for Al-Qur'an recitation of late. Saya cari programnya di harddisk saya, ternyata sudah hilang. Sepertinya ada di harddisk lama yang sudah rusak.. Saya cari lagi MP3 recitation yang ada di harddisk, ternyata tidak. OMG, sudah dipindahkan ke mana? Padahal dulu ada. Lupa.
Kemudian, saya cari programnya di internet, yang berbahasa Indonesia (sepertinya buatan Sony Sugema), ternyata byte-nya gede banget, gak mungkin di-download dengan speed internet yang seperti ini.. Terus saya berencana mau beli programnya di penjual-penjual CD/DVD software bajakan yang bertebaran di sekitar kampus. Apa yang terjadi? Karena gak pernah kuliah jadi gak sempet kebeli. Sekalinya ke kampus, lupa.
Baru ingat sekarang ini jamannya Googling. Ketemu! Alhamdulillah. Yang ini sifatnya streaming, kalo gak online gak bakal bisa disetel. Buat yang penasaran, buka aja http://www.listen2quran.com .. Hebatnya, selain recitation (pembacaan), ada juga terjemahannya. Sayang saja tidak ada teks arab sehingga tidak bisa sambil belajar mengaji..
Galau.. Ya, kalo bahasa ababil (abege agak labil)-nya, saya ini galau. Apa yang harus saya lakukan??
First! Saya sudah merubah tampilan kamar kos saya. Nice job, setidaknya dapat me-refresh lingkungan saya sehari-hari yang notabene banyak di kos. Semoga dengan ini saya dapat semangat belajar mengingat ujian akhir semester sudah di depan pelupuk mata.
Lalu usaha berikutnya, I've been searching for Al-Qur'an recitation of late. Saya cari programnya di harddisk saya, ternyata sudah hilang. Sepertinya ada di harddisk lama yang sudah rusak.. Saya cari lagi MP3 recitation yang ada di harddisk, ternyata tidak. OMG, sudah dipindahkan ke mana? Padahal dulu ada. Lupa.
Kemudian, saya cari programnya di internet, yang berbahasa Indonesia (sepertinya buatan Sony Sugema), ternyata byte-nya gede banget, gak mungkin di-download dengan speed internet yang seperti ini.. Terus saya berencana mau beli programnya di penjual-penjual CD/DVD software bajakan yang bertebaran di sekitar kampus. Apa yang terjadi? Karena gak pernah kuliah jadi gak sempet kebeli. Sekalinya ke kampus, lupa.
Baru ingat sekarang ini jamannya Googling. Ketemu! Alhamdulillah. Yang ini sifatnya streaming, kalo gak online gak bakal bisa disetel. Buat yang penasaran, buka aja http://www.listen2quran.com .. Hebatnya, selain recitation (pembacaan), ada juga terjemahannya. Sayang saja tidak ada teks arab sehingga tidak bisa sambil belajar mengaji..
Saya sudah menandai situs tersebut di daftar situs-situs favorit saya yang ada di bagian atas blog ini. Semoga bisa bermanfaat bagi yang mengunjungi blog saya meskipun sepertinya tidak ada yang mengunjung, hahaha.
Jumat, 22 Oktober 2010
Unsur Illuminati di ITB?
Hari ini saya liat beberapa publikasi, yang tertempel di Campus Center Institut Teknologi Bandung.. Kok malah mirip simbol Illuminati? Yang sangat khas dengan mata-satunya itu..


Gambar ini saya ambil pas mau pulang dari acara wisnite (malam wisuda) di kampus, tapi gambar ini sebenernya udah saya liat dari siangnya.
Yaa..kalo ngomongin teori konspirasi dunia sih gak akan ada habisnya. Saya sendiri belum terlalu percaya dengan adanya Illuminati, Freemason, atau apapun itu..
By the way, ITB Hall of Fame itu apa yak?
Gak penting, waktunya tidur..
Bandung, 02:15, 22-10-10


Gambar ini saya ambil pas mau pulang dari acara wisnite (malam wisuda) di kampus, tapi gambar ini sebenernya udah saya liat dari siangnya.
Yaa..kalo ngomongin teori konspirasi dunia sih gak akan ada habisnya. Saya sendiri belum terlalu percaya dengan adanya Illuminati, Freemason, atau apapun itu..
By the way, ITB Hall of Fame itu apa yak?
Gak penting, waktunya tidur..
Bandung, 02:15, 22-10-10
Rabu, 02 Juni 2010
Di antara Ritz-Carlton dan Bursa Efek Jakarta
Tulisan ini menindaklanjuti tulisan saya di http://yuyu-gaga.blogspot.com/2010/05/terpercik-sedikit-kerasnya-kehidupan.html.
Singkat saja, ketika jam tangan saya sudah menunjukkan waktu yang kritis--hampir pukul 1 siang, yaitu waktu perjanjian--saya belum bertemu juga dengan bu manajer dari Premier Oil, dan ini berisiko menyebabkan kesan pertama yang tidak menyenangkan! Namun terlepas itu semua, ada suatu atau beberapa hal yang menarik saya.
Yaitu, saya hampir memasuki hotel Ritz-Carlton!

Sumber: http://www.trivago.com/jakarta-92299/hotel/the-ritz-carlton-jakarta-pacific-place-880967/picture-i4809223
Sebelumnya saya akan perjelas lagi bahwa Premier Oil adalah perusahaan-minyak-dan-gas asing di mana saya akan melamar kerja praktek. Pada website perusahaan tersebut tertulis bahwa kantor Premier Oil terletak di lantai 10 Jakarta Stock Exchange Bulding Tower 1. Bodohnya saya, saya tidak tahu kalau Jakarta Stock Exchange Building itu adalah gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) itu sendiri. Dari informasi yang saya dapat, Jakarta Stock Exchange Building terletak di Pacific Place. Sementara Pacific Place itu sendiri adalah Hotel Ritz-Carlton (nah lho?).
Tibalah saya di teras Ritz-Carlton. Di tengah Jakarta yang panas ini dan hati yang lelah, udara sejuk yang dihembuskan oleh air conditioner (AC) dari lobi hotel sedikit menaikkan mood saya.. Lalu saya menanyakan kepada seorang bellboy tentang letak BEJ (yang saya sebut saat itu dengan versi Inggris-nya).
"Expo-kah?" bellboy itu menanya balik. Ketika saya menanyakan bellboy lainnya, jawaban yang saya terima adalah sama.
Ada yang tidak beres di sini, dan saya langsung menyimpulkan bahwa Premier Oil tidak ada di sini. Tentu saja, ini hanya hotel!
Saat itu pukul 12:55, dan hati terus membuncah, saya hubungi bu manajer dari Premier Oil untuk menanyakan letak kantor dengan ponsel saya yang sudah low-bat. Intinya, saat itu saya baru menyadari ternyata Jakarta Stock Exchange Building itu adalah gedung Bursa Efek Jakarta dan..kemampuan bahasa Inggris saya harus lebih diasah lagi, hehe. Untungnya, untuk jalan dari Ritz Carlton ke BEJ cukup dengan menyebrang saja..
Kemudian hari-hari itu saya lanjutkan dengan beberapa pertemuan orang-orang dari Premier Oil, di mana di antara pertemuan-pertemuan itu saya harus menunggu cukup lama sehingga suasana terasa sedikit membosankan. Yang dapat menyamankan saya adalah di mana saya dapat berpikir positif bahwa ini mungkin adalah upaya mereka untuk menguji saya, apakah saya serius untuk kerja praktek di sana.
Namun, ketika saya menunggu, dari gedung BEJ lantai 10, melalui jendela, jelas terlihat hotel Ritz Carlton di seberang. Saya teringat kejadian ledakan bom hampir setahun yang lalu..yang menyebabkan tim favorit saya Manchester United tidak jadi datang ke Indonesia..yang menyebabkan Indonesia semakin terpuruk..dan yang paling pedih ialah korban-korban yang terluka dan tewas akibat kejadian bom tersebut..
Pastinya, terorisme, konspirasi, dan propaganda, merupakan tiga hal yang dapat saling bertentangan atau malah saling sejalan, sepaham, dan seirama.
Sekian.
Singkat saja, ketika jam tangan saya sudah menunjukkan waktu yang kritis--hampir pukul 1 siang, yaitu waktu perjanjian--saya belum bertemu juga dengan bu manajer dari Premier Oil, dan ini berisiko menyebabkan kesan pertama yang tidak menyenangkan! Namun terlepas itu semua, ada suatu atau beberapa hal yang menarik saya.
Yaitu, saya hampir memasuki hotel Ritz-Carlton!

Sumber: http://www.trivago.com/jakarta-92299/hotel/the-ritz-carlton-jakarta-pacific-place-880967/picture-i4809223
Tibalah saya di teras Ritz-Carlton. Di tengah Jakarta yang panas ini dan hati yang lelah, udara sejuk yang dihembuskan oleh air conditioner (AC) dari lobi hotel sedikit menaikkan mood saya.. Lalu saya menanyakan kepada seorang bellboy tentang letak BEJ (yang saya sebut saat itu dengan versi Inggris-nya).
"Expo-kah?" bellboy itu menanya balik. Ketika saya menanyakan bellboy lainnya, jawaban yang saya terima adalah sama.
Ada yang tidak beres di sini, dan saya langsung menyimpulkan bahwa Premier Oil tidak ada di sini. Tentu saja, ini hanya hotel!
Saat itu pukul 12:55, dan hati terus membuncah, saya hubungi bu manajer dari Premier Oil untuk menanyakan letak kantor dengan ponsel saya yang sudah low-bat. Intinya, saat itu saya baru menyadari ternyata Jakarta Stock Exchange Building itu adalah gedung Bursa Efek Jakarta dan..kemampuan bahasa Inggris saya harus lebih diasah lagi, hehe. Untungnya, untuk jalan dari Ritz Carlton ke BEJ cukup dengan menyebrang saja..
Kemudian hari-hari itu saya lanjutkan dengan beberapa pertemuan orang-orang dari Premier Oil, di mana di antara pertemuan-pertemuan itu saya harus menunggu cukup lama sehingga suasana terasa sedikit membosankan. Yang dapat menyamankan saya adalah di mana saya dapat berpikir positif bahwa ini mungkin adalah upaya mereka untuk menguji saya, apakah saya serius untuk kerja praktek di sana.
Namun, ketika saya menunggu, dari gedung BEJ lantai 10, melalui jendela, jelas terlihat hotel Ritz Carlton di seberang. Saya teringat kejadian ledakan bom hampir setahun yang lalu..yang menyebabkan tim favorit saya Manchester United tidak jadi datang ke Indonesia..yang menyebabkan Indonesia semakin terpuruk..dan yang paling pedih ialah korban-korban yang terluka dan tewas akibat kejadian bom tersebut..
Pastinya, terorisme, konspirasi, dan propaganda, merupakan tiga hal yang dapat saling bertentangan atau malah saling sejalan, sepaham, dan seirama.
Sekian.
Kamis, 27 Mei 2010
Terpercik Sedikit Kerasnya Kehidupan Metropolitan
Paling benci ngeluarin duit buat hal yang gak penting...
Ok, ini semua bermula dari saya yang salah mengestimasi tanggal libur. Yang saya kira libur Waisak itu hari Kamis, ternyata Jumat.. Hal ini menyebabkan rencana awal mau ke kantor* hari Jumat, jadi harus maju sehari. Alhasil, persiapan kurang (BANGET).
*)Samakan dulu persepsi bahwa kantor adalah tempat saya melamar KP (Kerja Praktek), di Premier Oil Company, gedung Bursa Efek Jakarta.
Rabu, 26 Mei 2010. Pada hari ini saya baru tersadar kalo libur Waisak hari Jumat. Saya masih di Bandung dan akan ke Bekasi pada hari itu. Berangkat terlalu sore karena nunggu surat pengantar resmi KP dari kampus. Nyampe di pintu tol Bekasi sekitar jam 6an, dan di sana macet 1,5 jam!! Padahal ga nyampe berapa kilo lagi udah nyampe rumah. Ini nih malesnya tinggal di megapolitan*, macet, bikin capek kalo nyetir sendiri.
*)Lagi, untuk penyamaan persepsi, saya menyebut metropolitan adalah kehidupan di ibukota Jakarta, sementara megapolitan lebih luas, yaitu Jabodetabek. Intinya sama aja sih..
Kamis, 27 Mei 2010. Karena tepar, bangunnya kesiangan.. Belum ngedit proposal, belum minta dikirimin CVnya si Made (partner KP saya), belum foto, waah!! Ditambah dimarahin si mama gara-gara lalay.. (-_-) Tapi akhirnya saya minta tolong si mama fotoin aku pake kamera hape buat naro foto 4x6 di proposal, untung cet kamar saya biru, heheh. Terus edit-edit cepat pake photoshop, atur brightness, contrast, kemiringan, crop, jaadi deh!!
Tapi masih ada masalah, nge-print nya di mana!! Printer di rumah belom ter-install di laptop saya, kalo nyari CD driver-nya lagi, kelamaan! Tambahlah si mama marah-marah (aduh maaf ya ma). Udahlah saya bawa laptop aja ke mobil sekalian edit-edit trus ngeprin di jalan. Kakak saya nyaranin ngeprin di (sebutlah salah satu) pasar (di daerah sana) aja, karena searah ke tujuan saya, si kantor. Nah, dari sinilah puncak kesialan saya berlangsung..
Sialnya apa? Jalan macet? Biasa, namanya juga Jakarta. Berangkat harus paling lambat 2 jam sebelumnya, atau bahkan 3 jam. Saya berangkat jam 11 dari rumah dan janji ketemu manager di kantor jam 13. Okelah, gapapa, lanjut..
Akhirnya saya sampai di pasar Benhill, cari tempat print. Ada tempat fotokopi, saya nanya sama ibu-ibunya, "bu bisa ngeprin gak?"
Si ibu: "banyak gak?"
Saya: "gak..."
Si ibu: "kalo ga banyak di sebelah aja."
Lalu saya ke toko sebelahnya, memang, toko itu lagi print list harga makanan, mungkin order dari sebuah warung atau rumah makan. Dan memang toko itu adalah toko percetakan. Saya nanya, "mas bisa print?"
Mas print: "apa, brapa lembar, kertas apa?"
Saya: "file word, sepuluhanlah, A4." (flashdisk dikasih)
Mas print: "bisa."
Saya: "lah, kok ga kebaca file-nya?? Gak ada Office 2007 mas?"
Mas print: (diem gitu, cengo' kaya ga ngerti) "gak ada."
Saya berpikir dalem ati, ni tempat print apaan sih, yang bener aja kaga ada Office 2007. Padahal hari gini yang bajakannya aja banyak banget. Ya udahlah saya balik ke mobil, convert ke file word Office 1997--2003. Untung bawa laptop. Trus saya balik lagi ke tempat print yang aneh itu.
Saya: "udah diedit nih mas."
Mas print: "udah, cepet banget?"
Saya: (dalem hati) "udahlah cepet print, jangan banyak omong, telat gue!"
Saya: "mas tempat jilid di sini mana ya?"
Mas print: "di sana aja, deket masjid"
Saya: (dalem hati) "masjid mana juga, gue kagak tau. Ya udahlah yang penting print dulu"
Mas print: (senyum-senyum kek ngetawain gitu) "emang bisa, 10 halaman dijilid?"
Mas print: (ngomong sama master-nya sambil senyum-senyum) "ini bisa print word juga ya pak??" (majikannya ngangguk-ngangguk)
Saya: (dalem hati, kesel) "OH EMM JIII, lu ngapain aja kagak tau selama ini?!?!?!?!?!"
Saya: "berapa nih mas, print 19 halaman?" (ternyata 19 halaman setelah diitung-itung)
Si bapak majikan: "1 halaman-nya 5000"
WANJIIIRRRRRRRRRRRRRR, udah deh dalem hati bahasa kebon binatang saya keluar, kesel banget sumpah, udah printer-nya lemott!!
Saya: "lah ini kan warnanya gak banyak?? Cuma secuil."
Si bapak majikan: "tetep aja, kan yang mahal tintanya itu."
Saya: "ini juga cuma pake kertas A4."
Si bapak majikan: "tetep aja, kan yang mahal tintanya itu."
Bahasa kebon binatang saya tambah keluar, tapi dalem hati. Bisa diitung berapa tuh abisnya, meskipun udah diturunin jadi 4000 rupiah per lembar, tetep aja mahalnya GILA!! ABSURD!! Uang di dompet bener-bener abis, sumpah, tu juga sisanya tinggal ribuan, segitu juga udah hoki ada duit buat bayar.
Belom tau juga tu tinta original apa gak, dari tadi tu bapak masalahin tintanya terus. Okelah kalo original dan dia sayang ama tu tinta, padahal harusnya bisa diatur konsentrasi dan kekentalan printing dari komputer. Lagian kalo Rp5000/lembar, berarti dengan seharga tinta baru, mungkin sekitar Rp200 000, cuma bisa print 40 lembar!!! Beuh, bertahun-tahun saya pake printer sendiri, 1 cartridge bisa print beratus-ratus lembar file word biasa. Ini pemerasan atau apa, saya gak ngertilah..
Setelah bayar dengan tidak ikhlas, saya langsung ambil kertas saya dan pergi tanpa basa-basi. Nanya orang di jalan buat mastiin di mana tempat jilid. Ternyata di tempat fotokopian ibu-ibu yang sebelah si toko printer mewah tadi juga bisa. Haduh, ampun dah si mas print ngasi informasi jauh-jauh banget ke masjid..
Ketemu lagi sama si ibu fotokopian, dengan agak kesel juga sih karena ngasi informasi tempat print yang kek begitu. Udah gitu jilid-annya gak rapih.. Huhuhu, ini kan buat dikasih ke perusahaan..
Dan oh my God, di jam saya sudah menunjukkan pukul 12:50! Ini namanya udah terancam telat!!! (T_T)
Syukur alhamdulillah, pada akhirnya saya on-time, tidak telat, dan dapat bertemu dengan manager..hufh.. Maaf jika tulisan-tulisan di atas kurang berkenan, udah kadung emosi di TKP.. Cerita bagaimana nasib saya selanjutnya dapat dibaca di posting-an setelah ini.. Wassalam.
Ok, ini semua bermula dari saya yang salah mengestimasi tanggal libur. Yang saya kira libur Waisak itu hari Kamis, ternyata Jumat.. Hal ini menyebabkan rencana awal mau ke kantor* hari Jumat, jadi harus maju sehari. Alhasil, persiapan kurang (BANGET).
*)Samakan dulu persepsi bahwa kantor adalah tempat saya melamar KP (Kerja Praktek), di Premier Oil Company, gedung Bursa Efek Jakarta.
Rabu, 26 Mei 2010. Pada hari ini saya baru tersadar kalo libur Waisak hari Jumat. Saya masih di Bandung dan akan ke Bekasi pada hari itu. Berangkat terlalu sore karena nunggu surat pengantar resmi KP dari kampus. Nyampe di pintu tol Bekasi sekitar jam 6an, dan di sana macet 1,5 jam!! Padahal ga nyampe berapa kilo lagi udah nyampe rumah. Ini nih malesnya tinggal di megapolitan*, macet, bikin capek kalo nyetir sendiri.
*)Lagi, untuk penyamaan persepsi, saya menyebut metropolitan adalah kehidupan di ibukota Jakarta, sementara megapolitan lebih luas, yaitu Jabodetabek. Intinya sama aja sih..
Kamis, 27 Mei 2010. Karena tepar, bangunnya kesiangan.. Belum ngedit proposal, belum minta dikirimin CVnya si Made (partner KP saya), belum foto, waah!! Ditambah dimarahin si mama gara-gara lalay.. (-_-) Tapi akhirnya saya minta tolong si mama fotoin aku pake kamera hape buat naro foto 4x6 di proposal, untung cet kamar saya biru, heheh. Terus edit-edit cepat pake photoshop, atur brightness, contrast, kemiringan, crop, jaadi deh!!
Tapi masih ada masalah, nge-print nya di mana!! Printer di rumah belom ter-install di laptop saya, kalo nyari CD driver-nya lagi, kelamaan! Tambahlah si mama marah-marah (aduh maaf ya ma). Udahlah saya bawa laptop aja ke mobil sekalian edit-edit trus ngeprin di jalan. Kakak saya nyaranin ngeprin di (sebutlah salah satu) pasar (di daerah sana) aja, karena searah ke tujuan saya, si kantor. Nah, dari sinilah puncak kesialan saya berlangsung..
Sialnya apa? Jalan macet? Biasa, namanya juga Jakarta. Berangkat harus paling lambat 2 jam sebelumnya, atau bahkan 3 jam. Saya berangkat jam 11 dari rumah dan janji ketemu manager di kantor jam 13. Okelah, gapapa, lanjut..
Akhirnya saya sampai di pasar Benhill, cari tempat print. Ada tempat fotokopi, saya nanya sama ibu-ibunya, "bu bisa ngeprin gak?"
Si ibu: "banyak gak?"
Saya: "gak..."
Si ibu: "kalo ga banyak di sebelah aja."
Lalu saya ke toko sebelahnya, memang, toko itu lagi print list harga makanan, mungkin order dari sebuah warung atau rumah makan. Dan memang toko itu adalah toko percetakan. Saya nanya, "mas bisa print?"
Mas print: "apa, brapa lembar, kertas apa?"
Saya: "file word, sepuluhanlah, A4." (flashdisk dikasih)
Mas print: "bisa."
Saya: "lah, kok ga kebaca file-nya?? Gak ada Office 2007 mas?"
Mas print: (diem gitu, cengo' kaya ga ngerti) "gak ada."
Saya berpikir dalem ati, ni tempat print apaan sih, yang bener aja kaga ada Office 2007. Padahal hari gini yang bajakannya aja banyak banget. Ya udahlah saya balik ke mobil, convert ke file word Office 1997--2003. Untung bawa laptop. Trus saya balik lagi ke tempat print yang aneh itu.
Saya: "udah diedit nih mas."
Mas print: "udah, cepet banget?"
Saya: (dalem hati) "udahlah cepet print, jangan banyak omong, telat gue!"
Saya: "mas tempat jilid di sini mana ya?"
Mas print: "di sana aja, deket masjid"
Saya: (dalem hati) "masjid mana juga, gue kagak tau. Ya udahlah yang penting print dulu"
Mas print: (senyum-senyum kek ngetawain gitu) "emang bisa, 10 halaman dijilid?"
Mas print: (ngomong sama master-nya sambil senyum-senyum) "ini bisa print word juga ya pak??" (majikannya ngangguk-ngangguk)
Saya: (dalem hati, kesel) "OH EMM JIII, lu ngapain aja kagak tau selama ini?!?!?!?!?!"
Saya: "berapa nih mas, print 19 halaman?" (ternyata 19 halaman setelah diitung-itung)
Si bapak majikan: "1 halaman-nya 5000"
WANJIIIRRRRRRRRRRRRRR, udah deh dalem hati bahasa kebon binatang saya keluar, kesel banget sumpah, udah printer-nya lemott!!
Saya: "lah ini kan warnanya gak banyak?? Cuma secuil."
Si bapak majikan: "tetep aja, kan yang mahal tintanya itu."
Saya: "ini juga cuma pake kertas A4."
Si bapak majikan: "tetep aja, kan yang mahal tintanya itu."
Bahasa kebon binatang saya tambah keluar, tapi dalem hati. Bisa diitung berapa tuh abisnya, meskipun udah diturunin jadi 4000 rupiah per lembar, tetep aja mahalnya GILA!! ABSURD!! Uang di dompet bener-bener abis, sumpah, tu juga sisanya tinggal ribuan, segitu juga udah hoki ada duit buat bayar.
Belom tau juga tu tinta original apa gak, dari tadi tu bapak masalahin tintanya terus. Okelah kalo original dan dia sayang ama tu tinta, padahal harusnya bisa diatur konsentrasi dan kekentalan printing dari komputer. Lagian kalo Rp5000/lembar, berarti dengan seharga tinta baru, mungkin sekitar Rp200 000, cuma bisa print 40 lembar!!! Beuh, bertahun-tahun saya pake printer sendiri, 1 cartridge bisa print beratus-ratus lembar file word biasa. Ini pemerasan atau apa, saya gak ngertilah..
Setelah bayar dengan tidak ikhlas, saya langsung ambil kertas saya dan pergi tanpa basa-basi. Nanya orang di jalan buat mastiin di mana tempat jilid. Ternyata di tempat fotokopian ibu-ibu yang sebelah si toko printer mewah tadi juga bisa. Haduh, ampun dah si mas print ngasi informasi jauh-jauh banget ke masjid..
Ketemu lagi sama si ibu fotokopian, dengan agak kesel juga sih karena ngasi informasi tempat print yang kek begitu. Udah gitu jilid-annya gak rapih.. Huhuhu, ini kan buat dikasih ke perusahaan..
Dan oh my God, di jam saya sudah menunjukkan pukul 12:50! Ini namanya udah terancam telat!!! (T_T)
Syukur alhamdulillah, pada akhirnya saya on-time, tidak telat, dan dapat bertemu dengan manager..hufh.. Maaf jika tulisan-tulisan di atas kurang berkenan, udah kadung emosi di TKP.. Cerita bagaimana nasib saya selanjutnya dapat dibaca di posting-an setelah ini.. Wassalam.
Langganan:
Postingan (Atom)